10 Tren Otomotif Global di tahun 2025
Ray Adhee
|3 Januari 2025

Industri otomotif secara global, terus berkembang dengan cepat, dan tahun 2025 akan menjadi momen penting dalam berbagai aspek, mulai dari kendaraan listrik (EV), diversifikasi pasar NEV dan Hidrogen, hingga teknologi AI ( Artificial Intelligence). Berikut adalah sepuluh prediksi utama yang akan membentuk masa depan otomotif global:

Tahun 2025 akan menjadi tonggak bagi produsen mobil Eropa seperti Citroën, Fiat, dan Renault yang meluncurkan EV dengan harga terjangkau, sekitar EUR20.000 (Rp345 juta). Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan adopsi EV di Eropa setelah mengalami penurunan. Salah satu pemain baru, Leapmotor, akan memperluas jaringan distribusi melalui kemitraan dengan Stellantis, menawarkan model seperti Leapmotor B10 dan T03 yang ramah lingkungan dan terjangkau.

China diprediksi akan menjadi pelopor dalam implementasi komersial kendaraan autonomous drive Level 4. Dengan dukungan regulasi yang fleksibel dan subsidi pemerintah, China telah memilih 21 kota sebagai lokasi program percontohan. Sementara itu, AS masih menghadapi tantangan regulasi yang lebih ketat, meski memimpin dalam jumlah paten teknologi otonom.
Kemajuan teknologi baterai diharapkan dapat menghidupkan kembali potensi kendaraan listrik terbang secara vertikal lepas landas dan mendarat (eVTOL) seperti XPeng Aeroht dari China. Baterai lithium-air dan solid-state menjadi kandidat utama karena kapasitas energi tinggi dan daya tahan mereka. Volkswagen melalui QuantumSpace sedang mengembangkan baterai solid-state yang dapat mengisi daya hingga 80% hanya dalam 15 menit.

China akan tetap menjadi kekuatan dominan di pasar EV global pada 2025. Dengan kontrol atas bahan baku utama baterai EV, produsen China mampu menawarkan harga kompetitif. Selain itu, ekspansi agresif ke pasar Eropa dan peningkatan insentif domestik mendorong pertumbuhan lebih lanjut. Ditambah dengan pasar global semakin banyak meminati NEV (New Energy Vehicle), pabrikan-pabrikan asal China pun bersiap untuk memperbanyak line-up model produksi NEV.


Kebijakan perdagangan AS yang lebih proteksionis di bawah pemerintahan Donald Trump diprediksi dapat meningkatkan ketegangan perdagangan global. Sementara itu, Uni Eropa sedang bernegosiasi dengan China terkait tarif impor EV, yang berpotensi memengaruhi pasar otomotif.

Produsen otomotif China seperti BYD, MG, dan Chery terus memperkuat posisinya di pasar Eropa. Di tahun lalu, MG sebagai contoh, cukup laris terutama di kawasan UK yang didukung oleh aura Morris Garage lantaran aslinya merupakan brand dari Inggris, lalu BYD diprediksi menjual 45.000 unit pada 2024, sementara MG dan Chery berfokus pada model dengan harga terjangkau dan segmen premium. Kombinasi ini menargetkan satu juta penjualan di Eropa pada akhir dekade.

Jepang dan Korea Selatan memimpin inovasi kendaraan hidrogen. Toyota dan Hyundai berinvestasi besar-besaran dalam teknologi ini, diawali oleh Toyota di 2014 melalui model MIRAI. Pada 2025, Toyota akan menguji Hiace hidrogen-elektrik, sementara Hyundai akan meluncurkan model berbasis FCEV yakni INITIUM.


Meskipun penjualan BEV meningkat, akan tetapi tingkat pertumbuhan melambat di 2024 lalu. Harga tinggi, infrastruktur pengisian yang kurang memadai, dan ketidakpastian politik secara global dan kebijakan pemerintah tiap-tiap region menjadi penghalang utama. Namun, dengan adanya model EV yang lebih terjangkau harganya dan dukungan pemerintah setempat diperkirakan dapat memacu adopsi.

Produsen otomotif Eropa menghadapi tekanan biaya dan kapasitas berlebih, terutama dengan persaingan dari produsen China. Perusahaan seperti Volkswagen dan Stellantis fokus pada pengurangan biaya tenaga kerja dan efisiensi produksi untuk tetap kompetitif.

Generative AI (GenAI) akan semakin banyak digunakan dalam industri otomotif, baik untuk asisten suara di kendaraan maupun layanan pelanggan. Produsen seperti Volkswagen mulai mengintegrasikan teknologi ini via ChatGPT untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan efisiensi operasional.