Jenis Colokan Charger Mobil Listrik di Indonesia
Felix Ganafi
|14 Mei 2025

Perkembangan kendaraan listrik (EV – Electric Vehicle) di Indonesia berlangsung sangat cepat. Seiring bertambahnya model EV di jalanan, pemahaman tentang colokan (port) charger menjadi kunci agar proses pengisian daya berjalan lancar dan efisien. Berikut ulasan lengkap jenis-jenis colokan charger mobil listrik yang sering dijumpai, termasuk fungsi, kelebihan, kekurangan, serta penggunaannya di Tanah Air.
Colokan (port) charger adalah soket khusus yang menghubungkan kabel pengisi daya ke port di mobil listrik. Berbeda dengan “colokan listrik” biasa di rumah, colokan charger EV dirancang untuk mentransfer daya besar, melindungi sistem kelistrikan, dan menjalin komunikasi antara charger dengan BMS – Battery Management System mobil.


Kepanjangan: Society of Automotive Engineers J1772
Deskripsi: Port 5-pin untuk pengisian AC single-phase.
Kelebihan: Desain sederhana, harga kabel terjangkau, keamanan tinggi.
Kekurangan: Daya maksimal hanya 7,4 kW, lama untuk charging penuh.
Penggunaan di Indonesia: Dulu dipakai Nissan Leaf dan Mitsubishi Outlander PHEV generasi awal; kini semakin jarang.

Kepanjangan: International Electrotechnical Commission 62196 (Mennekes adalah nama pabrikan asal Jerman)
Deskripsi: Port 7-pin mendukung AC single & three-phase hingga 22 kW.
Kelebihan: Fleksibel, cepat, jadi standar Eropa dan Indonesia.
Kekurangan: Kabel dan charger sedikit lebih mahal.
Penggunaan di Indonesia: Paling umum di SPKLU PLN dan swasta (Shell Recharge, EVOS, Chargenet); dipakai hampir semua EV modern seperti BMW iX, Hyundai Ioniq, dan Tesla Model 3.

Kepanjangan: Combined Charging System Type 2 Gabungan port Type 2 + DC fast charging pins
Deskripsi: Port multifungsi untuk AC (Type 2) dan DC (hingga 350 kW).
Kelebihan: Satu soket untuk charging lambat dan cepat, protokol komunikasi canggih.
Kekurangan: Infrastruktur DC charging mahal, adaptor terbatas.
Penggunaan di Indonesia: Standar DC fast charging di SPKLU PLN (50–150 kW) dan jaringan swasta; dipakai VW ID.4, Hyundai Ioniq 5, Kia EV6.

Kepanjangan: CHArge de MOve
Deskripsi: Port DC fast charging dengan 10-pin, awalnya hingga 62,5 kW; generasi baru sampai 100 kW.
Kelebihan: Protokol stabil dan banyak dipakai dulu di Jepang.
Kekurangan: Konektor besar, mulai tergeser oleh CCS.
Penggunaan di Indonesia: Masih ada di beberapa SPKLU lama; diperlukan untuk Nissan Leaf dan Mitsubishi Outlander PHEV lama.

Kepanjangan: Guóbiāo/Tuījiàn (Standar Nasional Tiongkok)
Deskripsi: Standar AC & DC Tiongkok; DC up to 237,5 kW.
Kelebihan: Dukungan fast charging tinggi, banyak diadopsi pabrikan China.
Kekurangan: Tidak kompatibel langsung dengan Type 2 atau CCS tanpa adaptor.
Penggunaan di Indonesia: Muncul pada EV asal China seperti BYD Atto 3, Wuling Air ev, dan DFSK.

Pemerintah dan PLN menargetkan ribuan SPKLU berstandar Type 2 dan CCS2 hingga pelosok. Tren global mengarah ke port universal (CCS2) serta teknologi wireless charging (pengisian nirkabel) yang akan memudahkan pengguna EV di masa depan.
Memahami jenis-jenis colokan charger mobil listrik membantu memastikan pengalaman nge-charge yang cepat, aman, dan tanpa hambatan. Pilih port yang sesuai dengan kendaraan dan ketersediaan SPKLU di wilayah Anda, supaya perjalanan listrik selalu siap melaju!