Bos CATL Ungkap Fakta Baterai Solid-State, Produksi Massal Diperkirakan Belum Tercapai Sebelum 2030
Felix Ganafi
|18 Juni 2026

Perkembangan baterai solid-state terus menjadi perhatian industri otomotif global karena dianggap sebagai teknologi yang mampu membawa kendaraan listrik ke level berikutnya. Namun, di tengah tingginya ekspektasi pasar, pimpinan produsen baterai terbesar dunia, CATL, memberikan pandangan yang lebih realistis mengenai masa depan teknologi tersebut.
Chairman CATL, Dr. Robin Zeng, mengungkapkan bahwa produksi massal baterai solid-state dalam skala besar masih membutuhkan waktu yang cukup panjang. Menurutnya, tingkat komersialisasi yang benar-benar efisien baru dapat tercapai ketika volume produksi mampu mendukung setidaknya 1 juta kendaraan per tahun, sebuah angka yang diperkirakan belum bisa diraih sebelum tahun 2030.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa meskipun banyak produsen otomotif berlomba mengembangkan baterai solid-state, teknologi ini masih berada dalam tahap pengembangan yang relatif awal.
Saat ini, CATL menyebut teknologi baterai solid-state masih berada pada Level 4 Technology Readiness Level (TRL) dari total sembilan tingkat kesiapan teknologi. Posisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini masih berada dalam fase validasi laboratorium dan pengembangan prototipe, sehingga belum siap untuk diterapkan secara luas pada kendaraan produksi massal.
Salah satu tantangan terbesar terletak pada proses manufaktur. Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang menggunakan elektrolit cair, baterai solid-state mengandalkan kontak antar material padat yang membutuhkan proses produksi sangat kompleks.
CATL menjelaskan bahwa proses penyatuan komponen membutuhkan tekanan hingga 6.000 atmosfer. Dalam kondisi tersebut, perbedaan karakteristik material dapat menimbulkan ketidaksempurnaan struktur yang berujung pada peningkatan resistansi internal serta mempercepat degradasi sel baterai.
Karena alasan tersebut, penggunaan awal baterai solid-state kemungkinan hanya akan diterapkan pada kendaraan premium dengan harga di atas 250.000 yuan atau sekitar Rp565 juta.
Sementara menunggu teknologi tersebut matang, industri kendaraan listrik global masih mengandalkan baterai berbasis elektrolit cair yang sudah terbukti andal. Data CATL menunjukkan bahwa baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) masih mendominasi pasar dengan pemasangan mencapai 23,12 GWh pada Mei 2026, sementara baterai ternary lithium menyumbang 9,96 GWh.

Di sisi lain, sejumlah produsen otomotif tetap melanjutkan pengembangan teknologi generasi berikutnya. Salah satunya adalah Dongfeng Motor, yang tengah menyiapkan baterai berbasis oksida-polimer dengan kepadatan energi mencapai 350 Wh/kg dan jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Pengembangan baterai solid-state juga mulai merambah sektor penerbangan. Perusahaan kendaraan terbang Ehang bahkan telah menguji baterai lithium-metal solid-state dengan kepadatan energi mencapai 480 Wh/kg untuk mendukung operasional kendaraan udara tanpa awak.
Meski prospeknya menjanjikan, CATL menilai jalan menuju adopsi massal masih panjang. Perusahaan bahkan memperkirakan investasi penelitian dan pengembangan teknologi elektrolit sulfida dapat mencapai 10 miliar yuan atau sekitar Rp22 triliun.
Dengan berbagai tantangan teknis dan biaya pengembangan yang masih tinggi, baterai solid-state diprediksi belum akan menggantikan dominasi baterai lithium-ion konvensional dalam waktu dekat. Untuk beberapa tahun ke depan, teknologi baterai cair masih akan menjadi tulang punggung industri kendaraan listrik global.
*Sumber: carnewschina